Minggu, 12 Desember 2010

Wisata Alam Dieng


dieng1Dieng adalah sebuah kawasan di daerah dataran tinggi di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Desa Dieng terbagi menjadi Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Kawasan ini terletak sekitar 26 km di sebelah Utara ibukota Kabupaten Wonosobo, dengan ketinggian mencapai 6000 kaki atau 2.093 m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin. Temperatur berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Bahkan, suhu udara terkadang dapat mencapai 0°C di pagi hari, terutama antara Juli—Agustus. Penduduk setempat menyebut suhu ekstrem itu sebagai bun upas yang artinya “embun racun” karena embun ini menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
dieng1

Dieng menjadi satu Tujuan Wisata Dataran Tinggi di Jawa Tengah, yang sangat unik di Dieng adalah dataran tinggi yang curam dan terjal tetapi ditanami oleh berbagai macam tanaman dan sayuran. Sejak dahulu kawasan dataran tinggi dieng yang terletak di kabupaten Wonosobo ini dikenal sebagai pusat berbagai macam tanaman dan sayuran, selain itu suasana pagi Dieng terasa sangat sejuk dan kita tidak tahu kapan kabut turun yang membuat suasana menjadi lebih mistis.

Eksotika Pemandangan kawasan ini sudah tidak diragukan lagi, ada banyak objek Landscape yang dapat anda nikmati. Seperti Telaga Warna salah satu telaga yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, disini kita bisa menikmati 3 macam telaga biru, hijau dan coklat. Walaupun masih banyak telaga yang lain seperti telaga Merdada, Sumurup dan Pengilon.
Selain objek wisata Telaga dan pemandangan, kita bisa menikmati objek Arsitektur Sejarah. Disini terdapat situs reruntuhan candi purbakala hindu yang konon dibangun bersamaan dengan zaman dengan dibangunnya Candi Borobudur, sekitar abad ke-8 Masehi, dulu merupakan pusat penyebaran agama Hindu pertama di Jawa Tengah. Para ahli arkeolog yakin komunitas hindu didataran tinggi dieng adalah awal lahirnya Dinasty Syailendra yang pada jamannya membangun candi yang monumental dalam sejarah. Selain reruntuhan candi kita juga menemukan reruntuhan sisa – sisa kerajaan masa lampau. Yang unik, candi-candi disekitar dieng ini dinamai tokoh-tokoh pewayangan Pandawa Lima. Ada empat kelompok candi yakni kelompok Candi Dwarawati dan Parikesit, kelompok Candi Dwarawati Timur, kelompok Candi Setyaki, Ontorejo, Petruk, Nala Gareng, dan Nakula-Sadewa, serta kelompok Candi Arjuna, Semar, Sembodro, Puntadewa, dan Srikandi.Kelompok bangunan candi dieng ini terletak pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dan ditemukan pada sekitar tahun 1800.
kompleks_candi_dieng

Kawah didataran tinggi Dieng tergolong masih aktif, karena masih mengeluarkan belerang panas dan beberapa ada yang beracun. Jika anda tertarik untuk mengunjungi beberapa kawah yang terdapat di kawasan ini sebaiknya menanyakan kepada penduduk sekitar, kawah mana saja yang cukup aman dikunjungi. Salah satu kawah yang terkenal adalah kawah candradimuka, yang dinamai menurut cerita Gatot Kaca dilebur dikawah tersebut. Jalan untuk menuju tempat ini sangatlah menanjak dan jalan yang berliku sangat tajam.

Dataran Tinggi Dieng hanya mempunyai satu akses masuk, yaitu dari Wonosobo jika ingin kesini Anda harus melewati daerah ini terlebih dahulu. Sedangkan jika Anda dari arah Yogyakarta sebaiknya dari arah magelang dan terus ke Wonosobo. Dan bersiaplah menikmati pesona alam Dieng yang Eksotik.
dieng2

Untuk menikmati keindahan di kawasan Dieng, sebaiknya Anda sampai sebelum matahari terbit, karena cuaca Dieng termasuk unik. Selain menikmati matahari terbit dari balik dataran tinggi pegunungan cuaca bagus disini sangat cepat, mungkin karena iklim pegunungan yang cepat berubah dan sering turun kabut secara tiba-tiba. Kondisi cuaca yang sangat baik disini dari jam 6 sampai jam 9 pagi, jadi persiapkan diri Anda mau keobjek mana saja dalam waktu 3 jam.

Curug Semawur

“Curug Semawur” mungkin nama tempat ini bagi masyarakat Kendal dan sekitarnya sedikit agak asing, atau malah mungkin belum mengetahui sedikitpun tentang curug yg satu ini.
Curug Semawur ini berada tepat diperbatasan antara kabupaten Kendal dengan kabupaten Batang.
Kedua daerah ini dipisah oleh “sungai lampir” yang begitu deras serta jernih airnya, untuk sisi sebelah barat sungai lampir, masuk dalam desa Kalirejo kecamatan Bawang kabupaten Batang, sedangkan sisi sebelah timur sungai lampir ini, masuk dalam desa jiwan kecamatan plantungan kabupaten Kendal.
Untuk sampai di desa terakhir (jiwan) ini, ada beberapa alternatif alat trasportasi, diantaranya kita bisa naik angkutan umum jurusan sukorejo, setelah itu kita minta turun di pertigaan plantungan, disini para tukang ojek dengan siap sedia mengantarkan kita sampai ketujuan. Namun jika kita rombongan banyak, alangkah baiknya kita mencarter mobil pick-up, baik itu dipasar weleri maupun dipasar sukorejo (tergantung keberadaan kita dimana) itupun tentu setelah sapakat dengan harga hasil tawar menawar. Untuk alternatif terakhir terakhir kita juga bisa menggunakan kendaraan pribadi, dan ternyata cara inilah yang paling efektif serta efisien, selain bisa lebih santai didalam perjalanan, kita juga tidak kuatir akan waktu pulangnya nanti. Terlebih lagi kondisi jalan disinipun sudah beraspal mulus, serta berkelok-kelok.

Penulis, kali ini menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju kedesa terakhir (jiwan) ini, disepanjang perjalanan menuju kedesa jiwan ini, penulis begitu menikmati akan keindahan panorama alamnya, setelah disuguhi dengan hutan cemara serta perkebunan cengkeh, selanjutnya kita akan disambut dengan hamparan persawahan yang begitu luas dan berterasering, apalagi ditambah dengan perbukitan yang menghjiau, menambah kepuasan jiwa tersendiri bagi penulis.
Dan yang tak kalah nikmatnya, kita juga akan digoda dengan kicauan burung-burung serta gemerciknya aliran sungai, apalagi kita akan dibuai oleh tiupan lembut angin lembah (karena memang daerah ini masih merupakan kakinya gunung perahu). keadaan inilah yg bisa mengusir rasa kesepian serta kejenuhan kita.
Setelah sampai didesa jiwan ini, kita bisa menitipkan kendaraan kita ke warga sekitar, (karena memang disini belum tersedia area untuk parkir) kali inipun penulis menitipkan kesalah satu warga desa jiwan (Bp Solikhin) yang mana sebelumnya penulis juga telah berkenalan dengan beliau waktu penulis masih duduk dibangku sekolah sekitar th 1995, dengan Bp Drs. Soewardjo selaku Pembina ekstra kurikuler (pencinta alam) waktu itu.
Selanjutnya kita menuju kesungai lampir, sebagai awal petualangan kita.
Untuk sampai di air terjun “Curug Semawur” ini,ada 2 alternatif jalan yang bisa kita lalui, pertama kalau kita ingin berbasah-basahan ria, kita bisa langsung menyusuri aliran sungai lampir ini sampai keatas dengan waktu kurang lebih satu jam, namun kalau kita ingin sedikit lebih santai, kita bisa juga lewati jalan setapak yang berada diperbukitan, namun jangan kaget kalu kita bertemu dengan tanaman liar serta semak-semak, yang tingginya lebih tinggi dari badan kita sendiri, dan jalan setapak tersebut merupakan jalan menuju ke Curug Semawur yang harus kita lalui.
Perjalanan disinipun tak kalah menariknya, selain terdapat ladang penduduk yang begitu luas, serta ditanami beraneka jenis tanaman, disepanjang jalan setapak inipun banyak ditanami kopi, yang merupakan andalan pertanian dari warga sekitar, selain cengkeh dan buah melinjo tentunya.
Yg tak kalah asyiknya disini masih banyak terdapat burung-burung liar yang senantiasa menemani disetiap langkah kaki kita.
Rasa capek dan letih akan segera hilang, apalagi kita sudah berada dibawah air terjun yang pertama, dengan hawa udaranya yang begitu sejuk & segar. Disinipun kita sudah bisa mandi dengan sesuka hati, namun belum puas rasanya kalau kita tidak menuju ke air terjun yang kedua yang mempunyai ketinggin kurang lebih 30 meter, untuk menuju ke air terjun yang kedua ini, kita harus ekstra hati-hati, karena selain jalannya yang menanjak & merambat keadaan jalannya lumayan licin karena berbatu.

Setelah puas berada dibawah guyuran segarnya air terjun curug semawur, penulis beristirahat sejenak dibawah rindangnya pepohonan, sembari ngobrol santai dan makan-makan, namun tak lama penulis beristirahat, ada rombongan dari siswa sekolah, serta dari klub pencinta alam yang datang kesini, kebanyakan dari mereka langsung menuju ke area kubangan batu dan tak lama kemudian, merekapun beramai-ramai mandi dibawah segarnya guyuran air terjun.
Namun sangat disayangkan curug semawur yang begitu indah ini, kurang begitu mendapat perhatian serta kurang begitu diminati oleh para pengunjung pada umumnya, kalaupun ada, mungkin untuk mereka yang benar-benar siap akan medan yang bakal dilaluinya, karena memang kondisi jalan menuju curug semawur ini selain masih setapak alami juga begitu jauh dari desa terakhir.
Penulis sendiri menyebut curug semawur sebagai “Surga Tersembunyi Bagi Petualang Sejati”, karena memang letaknya yang paling jauh dari keramaian serta paling barat dari wilayah kabupaten Kendal.
Padahal, jika curug semawur ini dikelola serta dikembangkan dengan baik dan juga dikemas menjadi obyek wana wisata, tidak menutup kemungkinan akan menjadi andalan aset pariwisata yang berharga bagi pemerintah Kendal, untuk warga sekitarpun bisa lebih banyak lagi pekerjaanya, selain bertani mereka juga bisa membuka lahan untuk area parkir, tempat MCK umum, maupun membuka warung-warung makan.

Wisata Bahari Pantai Celong, Batang

Perlu Penataan dan Renovasi
Di Kabupaten Batang terdapat sedikitnya tiga lokasi wisata pantai; Pantai Sigandu, Pantai Ujungnegoro, dan Pantai Celong. Semilir angin laut pantai utara, meraba pori-pori dan melumat kelelahan yang mengganjal. Jalan-jalan yang tidak terlalu halus, melintasi hutan karet dan mata hinggap di dedaunan, cukup untuk melepaskan rasa penat.
Pantai Celong, pantai yang sudah berpuluh tahun menjadi ikon pariwisata tradisional; wisata anak-anak desa di pegunungan yang sudah bosan hanya melihat-lihat daun padi dan hamparan sawah, sekali-kali menikmati liukan gelombang air laut, sekedar memandang ombak saling berlomba menebas pantai melambai. Menikmati suasana sunset yang ranum  ciptakan kedamaian senja. Beberapa pengunjung menjadikan lokasi ini sebagai tempat hiburan memancing, dengan menyewa kapal boat kecil ke sedikit tengah laut.
Dibandingkan dengan banyak pariwisata di Kabupaten Batang, Pantai Celong yang berada di Desa Mangunsari, Kecamatan Banyu Putih, Kabupaten Batang Jawa Tengah memanglah kurang begitu favorit dikenal, bahkan mungkin oleh sebagian warga di Kabupaten Batang terutama yang tinggal di bagian barat.
Pantai ini memang tidak terlalu menarik untuk dikunjungi, terutama oleh tourist luar kota yang berselera tinggi. Di samping kondisi pantai yang kurang terurus, pengunjung yang mau mengakses ke pantai ini juga harus melewati jalanan yang tidak terlalu representatif sebagai sebuah lokasi wisata. Kanan kiri jalan ke lokasi memang sangat indah dengan hijauan pepohonan karet dan randu, dilatari-belakangi oleh area perbukitan indah.  Tetapi kondisi badan jalan akses, bisa membuat pengunjung yang sedianya bermaksud mau menghibur diri, justru menjadi penat dan capek melintasi jalanan berliku dan sedikit terjal-terjal. Apalagi dengan kendaraan roda dua. Belum lagi, mendekati tiba di lokasi wisata ini, sedikit kotoran yang dibiarkan begitu saja melimpah di tepian pantai, sampah di sekitar bibir daratan, ditambah spot-spot peristirahatan juga tidak terawat. Selain itu, kondisi airnya juga kurang jernih, mungkin disebabkan oleh banyaknya sampah-sampah yang “terbuang” di sepanjang garis pantai.
Masa depan pantai ini sebenarnya bisa menjadi lebih menarik dengan penataan dan pembangunan kembali spot-spot sekitar yang ideal untuk dikunjungi, memiliki potensi menjadi ikon wisata favorit di Kabupaten Batang. Tentunya, Pemerintah harus lebih memberi perhatian secara serius dan melibatkan pengembang lokal, serta keharusan melibatkan penduduk setempat untuk pemeliharaannya.
Kereta menimbulkan suara gemuruh
Akan tetapi harus diakui, kendala yang memang kurang menyenangkan adalah adanya rel kereta api yang membelah lokasi pantai Celong. Beberapa saat berlalu, rel ini bisa mengurangi suasana istirahat para pengunjung. Suara kereta api lewat membuat suasana menjadi “heboh dan gemuruh”. Sehingga rehabilitasi pantai Celong, juga harus diiringi dengan rehabilitasi “stasiun” kereta apinya juga. Jika tidak, akan menyampaikan “pesan kekacauan” di tengah keindahan pemandangan Laut Jawa.
Untuk keluasan jalan akses ke pantai serta lokasi pantai sendiri juga perlu diperhatikan, mengingat keadaan sekarang ini begitu “sempit” dan kurang terjangkau bus-bus wisata. Bus-bus wisata yang mampu menjangkau Pantai Celong ini, hanya bus-bus angkutan antar kota. Tantangan yang tidak kalah “hebat”, adanya rumah-rumah warga yang merata di “seantero” pantai. Lokasi pantai berdesakan dengan hunian warga, sehingga Pantai Celong seolah bukan pantai wisata, tetapi sebuah desa dengan corak rumah berjajar di pantai. Berbagai kendala di atas, sangat berat untuk dirubah. Tanpa merubah “pesona” perumahan pantai ini, luas pantai sebagai lokasi wisata kurang cukup, dimana membutuhkan spot-spot yang representatif sebagai lokasi wisata unggulan. Ataupun, menjadikan perumahan itu sendiri sebagai bagian dari lokasi wisata.
Di beberapa lokasi di pantai ini, terutama di sebelah barat yang berumput, sering dipergunakan oleh siswa-siswi sekolah sebagai spot perkemahan kecil. Siswa-siswa sekolah pada musim tertentu, menjadikan Pantai Celong ini sebagai lokasi “mistis” untuk perenungan malam dan pencarian hakikat jati diri. Perenungan jati diri dengan iringan hembusan angin malam pantai yang sejuk, di atas rumput hijau dan bebatuan pantai.
Kita berharap bahwa Pemerintah Kabupaten Batang, segera tanggap terhadap aspirasi masyarakat ini, agar wisata “seadanya” ini melonjak dan mendatangkan berkah bagi warganya dan tentunya menaikkan pendapatan daerah Kabupaten Batang.
Terlepas dari semua itu, seburuk apapun sebuah lokasi, maka pengaruh Sumber Daya Manusia untuk merenovasi dan membangun perlu ditumbuhkan lebih dahulu. Tanpa SDM yang bermutu dan apresiatif, Pantai Celong akan tetap tertutup oleh dedaunan karet dan randu yang mulai layu, yang hanya dikunjungi anak-anak desa yang datang untuk sekedar menikmati hiburan seadanya, dengan biaya yang tentunya..murah meriah.

Agro Wisata Pagilaran, Batang

Aku tidak tahu ingin menulis apa, dari tadi sudah menulis beberapa kata namun ketika menjadi sebuah kalimat aku menghapusnya, kemudian aku menulis beberapa kata lagi namun ketika akan menjadi sebuah paragraf baru, aku malah menghapusnya, dan ini sempat berulang beberapa kali, sepertinya aku tidak ada ide untuk menulis postingan kali ini, sempat aku hanya diam mematung dan memandangi layar monitor untuk beberapa saat, namun tetap saja tidak ada ide yang terlintas dalam kepalaku. Argggghhh….!!!!! barangkali pikiranku sedang buntu sekarang ini, walau sebenarnya ada beberapa kejadian yang aku alami dalam miggu-minggu ini tapi kenapa susah banget untuk aku uraikan dalam sebuah kalimat yang nyata.
dsc02069
Ooh ya, ada yang pernah ke Pagilaran, sebuah hamparan perkebunan teh yang terletak di Selatan Kota Batang, tepatnya di Kecamatan Blado Kabupaten Batang, Perkebunan ini di kelola oleh Fakultas Pertanian UGM dari Yogyakarta, itupun aku baru tahu ketika kemarin mengantar seorang teman yang akan mengadakan penelitian di sana, ternyata untuk mengadakan penelitian di Perkebunan Teh Pagilaran ini harus ijin ke Direksi dulu, yang mana kantor direksinya itu terletak di Kota Yogya sana. Alhasil temanku itu mengundurkan diri karena alasan waktu yang mepet, tugas penelitian itu harus dikumpulkan dalam waktu 2 minggu itu yang membuatnya ragu untuk meneruskan penelitian di sana.

Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan, ada yang baru dari Agrowisata Pagilaran ini, Di samping suguhan pemandangan yang masih alami dan serba hijau, Disini ada Fasilitas untuk Out bond nya dan ada juga Flying Fox nya, ketika aku nanya-nanya sama mas nya yang jaga di sana, fasilitas ini baru di buka sekitar 2 bulan yang lalu, jadi bener-bener masih baru, dan tarifnya pun tidak terlalu mahal untuk masing-masing orang hanya di kenakan biaya Rp. 10.000 itu untuk Flying Fox nya, sedangkan untuk Outbondnya aku malah lupa nanya, aku sendiri pas kemarin ke sana belom sempat nyoba soalnya waktu itu kami cuman ber dua, jadi kurang rame.
Jadi buat kawan-kawan yang mungkin mampir ke kota Batang jangan lupa untuk mampir ke sana, mungkin hanya sekedar untuk menikmati pemandangan hijau nya yang masih alami, atau pengen merasakan Out bond bareng teman-temannya, atau juga pengen merasakan nikmatnya terjun bebas dari sini, silahkan mampir aja ke Obyek Wisata Pagilaran
dsc02051

Rabu, 08 Desember 2010

Air Terjun Semirang


* Lokasi : Desa Gogik Kec. Ungaran
* Jarak tempuh :
o Semirang – Kota Ungaran : 5 km
o Semirang – Kota Semarang : 25 km
* Daya Tarik :
o Wisata Alam
o Air terjun
o hawa sejuk, pemandangan alam yang indah bernuansa pedesaan
Tema kita kali ini adalah wisata di Air Terjun Semirang atau dalam bahasa Jawa Kromo Alusnya mungkin adalah Semirang Waterfall. Lokasinya berada di Desa Gogik, Ungaran, Kabupaten Semarang. Air terjun ini memiliki keindahan alam yang seperti hutan dan memiliki ketinggian ± 45 meter.
Akses menuju desa Gogik memang sudah memiliki jalur yang mudah, akan tetapi untuk menuju gerbang masuknya, masih sangat jelek. Jika tidak gesit menaiki sepeda motor, akan terjatuh karena jalan berbatu dan akan licin jika batu-batuan tersebut basah. Pengunjung yang membawa roda empat, sama sekali tidak dapat memasuki jalan menuju gerbang, jadi harus parkir yang dirasa agak jauh dari gerbang tepatnya di depan makam desa Gogik dan berjalan menuju gerbang kira-kira 500 meter.
Tiket masuk wisata ini terbilang murah yakni Rp 3.000 per orang. Mencapai air terjun Semirang dibutuhkan tenaga yang ekstra, karena pengunjung harus mendaki jalan setapak sepanjang kurang lebih 1 km. Pengunjung yang tidak terbiasa berolah raga pastinya akan merasa capai untuk menuju puncak, karena medannya seperti naik gunung. Naik turun melewati tangga, sungai kecil dan banyak pepohonan yang tinggi dan rindang.

Disediakan pos juga yang dapat digunakan untuk bersinggah dan beristirahat serta menikmati sejenak suara angin, gemericik air dan kicauan burung. Setelah mencapai puncak, di sana ada tenda-tenda kecil atau warung yang menjual makanan dan minuman. Namun sayangnya tempat ini tidak menjual souvenir.

Tempat Wisata di semarang

Makam Ki Ageng Pandanaran

Ki Ageng Pandanaran adalah Adipati Semarang yang pertama dan tanggal diangkatnya beliau sebagai adipati dijadikan hari jadi Kota Semarang. Dengan demikian beliau dianggap sebagai pelopor berdirinya kota Semarang. Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran meninggal pada tahun 1496. Tempat ini banyak dikunjungi oleh peziarah terutama pada acara khol meninggalnya beliau. Makam Ki Ageng Pandanaran ini berada di Jl. Mugas Dalam II / 4 Semarang.
Simpang Lima

Salah satu tempat yang memberi ciri khas bagi kota Semarang adalah Simpang Lima. Tempat ini merupakan alun-alun yang berada di tengah-tengah persimpangan Jl. Pandanaran di sebelah barat, Jl. A. Yani di sebelah timur, Jl. Gajahmada dan Jl. Pahlawan di sebelah timur, sementara disebelah timur laut ada Jl.KH. Ahmad Dahlan. Berkembangnya fungsi Simpanglima menjadi alun-alun merupakan saran Presiden pertama Republik Indonesia yang menyarankan pengadaan alun-alun di Semarang sebagai ganti dari Kanjengan. Alun-alun yang dimiliki Semarang sejak masa pemerintahan Adipati Semarang yang pertama itu telah berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan. Berfungsi sebagai tempat upacara, Simpanglima juga menjadi tempat berlangsungnya pertunjukan, tempat rekreasi, bahkan sebagai pasar tiban pada waktu-waktu tertentu. Berbagai jenis makanan baik makanan berat maupun makanan ringan dijual dengan gaya lesehan mengambil tempat sekitar trotoar dan sekeliling alun-alun. Sementara itusouvenir, alat sekolah sampai alat rumah tangga, sandal sampai hiasan rambut, juga dijual di sini.

Sebuah tugu berbentuk lilin berdiri tegak di tengah persimpangan Jl. Sutomo, Jl. Pandanaran, Jl. Imam Bonjol dan Jl. Soegiyopranoto. Tugu ini dibangun sebagai monumen untuk mengenang heroisme pejuang Semarang melawan penjajah Jepang yang dikenal sebagai pertempuran selama lima hari di kota Semarang  dari tanggal 14-19 Oktober 1945. Peletakan batu pertama dilakukan Gubernur Jawa Tengah Budiyono dan diresmikan oleh Presiden RI pertama Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Berbentuk lilin dengan makna semangat yang tak kunjung padam bagi para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan. Pada kaki monumen terdapat relief yang menggambarkan kesengsaraan rakyat Indonesia di masa jaman penjajahan Jepang, seperti relief Hongeroedem, relief pertempuran, relief penyerangan, relief korban dan relief kenangan.
Dibangun pada tahun 1750 dan dipugar pada tahun 1894 HPA de Wilde Westmas, gereja ini merupakan peninggalan Belanda. Disebut gereja Blenduk karena bentuk kubahnya yang seperti irisan bola,maka orang mengatakan ‘mblenduk’. Menempati areal seluas 400 m², bangunan ini berbentuk segi delapan beraturan (hexagonal) dengan penampil berupa bilik-bilik empat persegi panjang dan sisi sebelahnya berbentuk salib Yunani. Betuk ineriornya seluruhnya bercirikan Belanda yang dihiasi sulur tumbuhan yang tertata dari bahan sedangkan pada balkonnya mempunyai bentuk keindahan interior yang unik. Sebagai salah satu bangunan kuno di lingkungan Kota Lama, bangunan ini bisa dikunjungi setiap hari.
Museum Ronggowarsito

Museum yang terletak di Jl. Abdul Rahman Saleh ini merupakan museum terlengkap di Semarang yang memiliki koleksi mengenai sejarah, alam, arkeologi, kebudayaan, era pembangunan dan wawasan nusantara. Dengan nama yang diambil dari salah satu pujangga Indonesia yang terkenal dengan hasil karyanya dalam bidang filsafat dan kebudayaan, museum ini menempati luas tanah 1,8 ha. Museum ini dibuka setiap hari pukul 08.00-14.00 WIB kecuali hari Senin.

Sebagai museum perjuangan ABRI, museum ini menyimpan berbagai koleksi tentang data, sejarah dan dokumentasi, dan senjata-senjata baik tradisional maupun modern serta peralatan yang digunakan dalam perang saat mempertahankan kemerdekaan.
Museum Jamu Nyonya Meneer

Terletak di Jl. Kaligawe, museum ini didirikan pada tanggal 18 Januari 1984. Sebagai pusat informasi, promosi dan sebagai media untuk melestarikan warisan budaya tradisional, tentang jamu yang berkhasiat dimana semua bahannya didapat dari tanah air kita sendiri. Museum Nyonya Meneer menempati ruang seluas 150 m² yang menyimpan berbagai koleksi benda budaya tentang jamu serta koleksi pribadi Nyonya Meneer yang berupa foto-foto dan sejarah cara pembuatan jamu dengan menggunakan alat-alat tradisional (lumpang dan alu, pepesan, cuwo, panel dan bothekan/tempat menyimpan resep asli ramuan jamu). Museum dibuka setiap hari Senin-Jumat pada jam 10.00 – 15.00 WIB. Di sini pengunjung tidak dipungut biaya, selain itu pengunjung dapat menyaksikan pemutaran slide tentang tata cara proses pembuatan jamu serta dapat mencoba serbat hangat Jamu Nyonya Meneer.
Museum Jamu Jago dan Muri

Meseum yang memiliki koleksi foto-foto, slide dan peralatan tradisional pembuatan jamu pada masa lalu ini berlokasi di Jl. Setiabudi no.179 Srondol Semarang. Museum ini didirikan oleh perusahaan Jamu Jago sebagai pusat informasi dan promosi hasil jamu. Sementara itu museum MURI mengoleksi catatan rekor maupun prestasi luar biasa yang dimiliki orang-orang Indonesia, tercatat 142 data mengenai orang-orang dengan keistimewaan seperti : terberat, pinggang teramping, rambut terpanjang, dan lain-lain. Disini pengunjung tidak dipungut biaya dan dibuka pada hari Senin – Jumat dari 08.00-16.00 WIB. Pengunjung akan dihibur dengan kesenian karawitan baik yang dilakukan oleh karyawan-karyawati ataupun orang-orang cebol.

Tempat yang semula merupakan Taman Hiburan Rakyat sebagai kebun binatang yang dimiliki kota Semarang, kini setelah kebun binatang dipindah ke daerah Tinjomoyo, menjadi Taman Budaya Raden Saleh. Dengan fasilitas berupa gedung berkapasitas 1000 orang, taman ini lebih dikenal sebagai tempat pertemuan dan resepsi pernikahan.
Taman Tabanas Gombel

Taman yang berada di tanjakan Gombel ini terkenal dengan taman Tabanas di pelataran depan. Sebagai daerah perbukitan, daerah ini lebih sejuk dari Semarang bawah dan dari sini kita bisa menikmati pemandangan kota bawah. Di sekitar ini banyak berdiri hotel dan restoran.
Istana Majapahit

Fasilitas hiburan bagi masyarakat yang barada di Jl. Majapahit 288-290 ini memiliki kolam renang, kolam pancing, kereta, mainan anak dan gedung kesenian. Di Gedung Kesenian inilah digelar wayang orang setiap malam dimulai dari pukul 20.00 WIB sampai selesai. Untuk Istana Majapahit sendiri bisa dikunjungi setiap hari dari jam 06.00-21.00 dengan tariff Rp.1.750,00 ; Rp. 2.000,00
Puri Maerokoco

Sebuah obyek wisata yang berada di komplek Tawangmas PRPP ini dimaksudkan sebagai Taman Mini Jawa Tengah yang merangkum semua rumah adat yang disebut dengan anjungan dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah. Di dalam rumah-rumah tersebut digelar hasil-hasil industri dan kerajinan yang diproduksi oleh masing-masing daerah. Selain menampilkan rumah-rumah adat, obyek wisata ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi air seperti sepeda air, perahu juga kereta bagi pengunjung.
Tanjung Emas

Semarang memiliki pelabuhan besar yang terkenal sejak jaman penjajahan Belanda yaitu Tanjung Mas, dan banyak kapal besar merapat. Sebagai tempat rekreasi pelabuhan yang terletak di jalan Yos Sudarso arteri Semarang ini memiliki fasilitas : perahu sewa, kolam pancing, danau buatan, arena grass track, jogging track.
Taman rekreasi yang berada di daerah Kecamatan Tugu ini merupakan taman reptil dengan dilengkapi fasilitas arena permainan anak-anak dan panggung hiburan dan rumah makan. Di sini secara teratur digelar pertunjukan di panggung hiburan berupa tari ular, atraksi-atraksi seperti gulat dengan melawan buaya atau mandi ketonggeng. Taman ini terbuka untuk umum setiap hari.
Gedung ini di bangun untuk menampung berbagai kegiatan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pemuda yang ada di kota Semarang sekaligus sebagai secretariat masing-masing organisasi. Gelanggang ini memiliki fasilitas

Goa Kreo adalah sebuah goa kecil yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijogo saat mencari kayu jati guna membangun Masjid Agung Demak. Ketika itu menurut legenda Sunan Kalijogo bertemu dengan sekawanan kera yang kemudian disuruh menjaga kayu jati tersebut. Kata “Kreo” berasal dari kata “Mangreho” yang berarti peliharalah atau jagalah. Kata inilah yang kemudian menjadikan goa ini disebut Goa Kreo dan sejak itu kawanan kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai pennggu. Selain menikmati pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk serta bertemu dengan kera penunggu kawasan ini, pengunjung juga bisa menikmati aliran sungai yang dingin dan segar di bagian bawah daerah ini.
Obyek wisata agro yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Semarang ini berada sekitar 20 km dari pusat kota. Kawasan dengan luas areal 350 ha ini juga mengembangkan pertanian, perkebunan dan perikanan selain juga direncanakan akan dibangun kolam renang dan permainan anak. Dengan suasana asri pedesaan, pengunjung akan dapat menikmati kebun bunga dan buah seperti rambutan ataupun sayuran, seperti mentimun dan jagung manis.
Pantai Marina

Pantai Marina adalah tempat rekreasi berupa kolam renang dan pemandangan pantai karena terletak di pinggir pantai Semarang. Selain menawarkan fasilitas kolam renang pengunjung juga bisa menikmati fasilitas taman bermain, gazebo, lapangan volley pantai dan rekreasi air.
Ngaliyan Tirta Indah
Ngaliyan Tirta Indah adalah kolam renang yang berada di jalan Raya Ngaliyan Kecamatan Ngaliyan. Dibangun tahun 1991, kolam renang ini memiliki areal seluas 2 ha. Selain fasilitas kolam renang tempat ini juga dilengkapi dengan kebun pembibitan berbagai jenis tanaman dan bunga, gedung olahraga dan kafetaria

Klenteng ini dibangun oleh seorang utusan dari Tiongkok yang bernama Sam Poo Tay Djien dalam lawatannya ke Semarang, sebagai salah satu persinggahan dari rangkaian kunjungannya ke negara-negara Asia. Klenteng yang memberikan inspirasi bagi berkembangnya berbagai legenda mengenai kota Semarang khususnya kawasan Simongan ini memiliki bentuk bangunan yang sangat indah. Dengan perpaduan ornamen Cina yang sangat kental dipadu dengan bentuk atap yang mirip joglo, bangunan ini merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Kampoeng Laut
Obyek Wisata ini terletak pantai berdekatan dengan komplek PRPP dan  Taman Miniatur Jawa Tengah Maerokoco. Kolam Pemancingan , dengan arena pancing terlengkap diatas area 2 hektar, 104 lapak, ditunjang dengan Rumah Makan yang dipadukan dengan suasana pedesaan.
Kebun Binatang Tinjomoyo
Taman Margasatwa dan Kebun raya, atau yang Secara resmi disebut Taman Margaraya Tinjomoyo, oleh masyarakat Semarang lebih dikenal dengan sebutan “Bon-bin” Tinjomoyo”, merupakan re-lokasi dari Kebun Binatang Tegal Wareng pada tahun 1985. Obyek Wisata ini berada di bagian selatan kota Semarang, menempati lahan seluas 57 hektar berupa hutan kota yang didalamnya terdapat berbagai jenis binatang serta tempat bermain anak-anak
Menurut fungsinya Polder Tawang merupakan suatu sistem untuk memproteksi air limpahan dari luar kawasan dam mengendalikan muka air di dalam Kota Lama. Komponen sistem polder ini terdiri dari : tanggul, pintu air, saluran, kolektor, pompa air dan kolam retensi.

Budidaya Rumput Gajah Untuk Pakan Ternak

Jenis tanaman rumput-rumputan yang berperan dalam pengawetan tanah dan air adalah yang dapat berfungsi ganda yaitu berkemampuan untuk membantu mencegah berlangsungnya erosi dan dapat pula bermanfaat bagi hijauan makanan ternak. Rumput gajah merupakan alternatifnya.
Tanaman rumput-rumputan dapat digunakan dalam usaha pengawetan tanah dan atau pencegahan erosi dikarenakan :
a. Tanaman rumout-rumputan dapat tumbuh dengan cepat sehingga dalam waktu pendek tanah telah dapat tertutupi oleh tanaman tersebut secara rapat dan tebal.
b. Bagian atas dari tanaman (daun-daunan) mampu melindungi permukaan tanah dari percikan air hujan dan memperlambat aliran permukaan.
c. Bagian bawah tanaman (perakaran) dapat memperkuat resistensi tanah dan membantu melancarkan infiltrasi air kedalamtanah.
Penanaman rumput gajah dapat dilakukan secara monokultur ataupun interkultur dengan tanaman tahunan sehingga dapat diperoleh manfaat secara maksimal. Pertumbuhannya yang relatif cepat dalam waktu yang pendek serta peranan daun-daun dan perakarannya terhadap erosi, maka pembudidayaan rumput gajah dapat menjadi pilihan yang bijaksana dan menguntungkan.
Rumput Gajah ( Pennisctum purpureum) atau disebut juga rumput napier, merupakan salah satu jenis hijauan pakan ternak yang berkualitas dan disukai ternak. Rumput gajah dapat hidup diberbagai tempat (0 – 3000 dpl), tahan lindungan, respon terhadap pemupukan, serta enghendaki tingkat kesuburan tanah yang tinggi.
Rumput gajah tumbuh merumpun dengan perakaran serabut yang kompak, dan terus enghasilkan anakan apabila dipangkas secara teratur.
Pada lahan tumpang sari, rumput gajah dapat ditanam pada guludan-guludan sebagai pencegah
longsor akibat erosi. Morfologi rumput gajah yang rimbun, dapat mencapai tinggi lebih dari 2 meter sehingga dapat berperan sebagai penangkal angin (wind break) terhadap tanaman utama.
Rumput gajah dibudidayakan dengan potongan batang (stek) atau sobekan rumpun (pous) sebagai bibit. Bahan stek berasal dari batang yang sehat dan tua, dengan panjang stek 20 – 25 cm (2 – 3 ruas atau paling sedikit 2 buku atau mata). Pemotongan pada waktu penanaman ruas mata dapat Untuk bibit yang berasal dari sobekan rumpun/ anakan (pous) sebaiknya berasal dari
rumpun yang sehat, banyak mengandung akar dan calon anakan baru. Sebelum penanaman bagian vegetatif dari sobekan rumpun dipangkas terlebih dahulu untuk menghindari penguapan yang tinggi sebelum sistem perakaran dapat aktif menghisap air.
Cara Penanaman :
1. Pembersihan lahan
2. Pengolahan tanah (sebaiknya dilakukan pada akhir musim kemarau sehingga penanaman dapat dilakukan pada awal musim hujan).
3. Pembuatan lubang-lubang tanaman dengan jarak tanam 60 x 100 cm.
Diperlukan 17.000 bahan stek untuk kebutuhan lahan seluas 1 hektar.
Pemupukan :
1. Pupuk P dan K diberikan 2 kali dalam setahun yaitu pada waktu pengolahan tanah dan 6 bulan
kemudian, dengan dosis masing-masing 200 kg DS dan 200 kg ZK per hektarnya.
2. Pupuk N diberikan 200 kg ZA/ha/tahun yang diberikan setiap kali setelah 2 – 4 kali pemotongan.
3. Dapat juga digunakan pupuk kandang sebanyak 400 kw/ha/tahun yang diberikan pada waktu pengolahan tanah dan setelah pemotongan. Pemungutan Hasil (pemotongan) :
Pemotongan rumput gajah yang pertama dilakukan setelah tanaman berumur 60 hari,
selanjutnya dilakukan selang 40 hari pada musim hujan dan selang 60 hari pada musim kemarau.
Pada pemotongan batang rumput gajah sebaiknya ditinggalkan ± 10 cm dari permukaan tanah. Pemotongan batang tanaman yang terlalu pendek menyebabkan semakin lambatnya pertumbuhan kembali, namun jika batang yang ditinggalkan terlalu panjang maka tunas batang saja yang akan berkembang sedangkan jumlah anakan akan berkurang.
Peremajaan :
Dilakukan jika tanaman telah berumur 3 – 4 tahun setelah tanaman sudah tidak responsive lagi
terhadap pengelolaan. Setelah pemotongan terakhir, tanah diantara barisan dicangkul dan dilakukan pemupukan. Buatlah lubang tanam untuk tanaman baru pada perpotongan silang rumput yang lama, untuk menjaga kesinambungan stok hijauan ternak. Setelah tanaman baru tumbuh, sisa tanaman lama dibongkar hingga ke akar-akarnya. Komposisi Gizi Rumput Gajah (bahan kering) :
Bagian yang dapat dicerna dari rumput gajah yaitu :
Bahan kering %
Protein kasar = 10.19
Serat Kasar = 34.15
Lemak = 1.64
Abu = 11.73
BETN = 42.29
Bahan kering %
Protein kasar = 5.92
Serat Kasar = 22.74
Lemak = 0.84
BETN = 25.6
PENANAMAN RUMPUT UNTUK TERNAK
Sistem Budidaya Sapi Potong Pada Ekoregional Padang Pengembalaan
Persiapan lahan
· Lahan dibersihkan dari gulma, kemudian digaru dibiarkan selama satu minggu.
Persiapan bibit rumput
· Bibit rumput didatangkan dari Sub Balitnak Sungai Putih Kecamatan Galang, Sumatera Utara. Dipilahkan dalam 5 rumpun, kemudian untuk 1 lubang tanaman disiram dalam hal penyiapan akar agar jangan kering.
· Persiapan kebun bibit rumput kemudian tanah yang telah diolah dipagari dengan pagar duri dengan tiang dari batang kuda-kuda.
· Penanaman rumput rumput yang telah dipisahkan, kemudian ditanam dengan jarak tanam 40 x 60 cm/rumpun.
Pemupukan
· Tanah yang telah diistirahatkan diberikan pupuk urea sebanyak 1100 kg/ha, selang beberapa hari kemudian ditambah dengan pemberian pupuk kandang.
Penyiraman
· Disiram setiap hari agar akarnya cepat tumbuh.
Penimbangan
· Seluruh sapi ditimbang, diberikan obat cacing sesuai dengan anjuran dan diseleksi dengan memilih sapi yang baik untuk digemukan dan perkawinan dengan ratio perbandingan 10 ekor betina dengan 1 ekor jantan.
Pemeriksaan feses
· Feses diperiksa di laboratorium
dengan tujuan agar terhindar dari lido parasit, kemudian sapi tersebut disemprot dengan Asumtol guna pencegahan serangan berupa caplak.
Pengembalaan sapi
· Seluruh sapi ditempatkan pada padang pengembalaan yang telah ditumbuhi rumput Brachiria humicola.
Pengamatan
· Setiap 1 bulan sekali sapi tersebut ditimbang dengan tujuan mengetahui pertumbuhan berat badan, sedang sapi yang dipilih untuk tujuan perkawinan dideteksi dengan jalan pengambilan air seni (urin), bila telah menunjukan tanda-tanda kebuntingan dilihat
dengan penampilan sapi tersebut, urine dicelupkan ke dalam planotest bila menunjukkan tanda-tanda kehamilan maka akan tergambar didalam planotest tersebut.